Rabu, 16 November 2016

INDUSTRI HIJAB


Ahlan Wa Sahlan Industri Hijab Dunia


Hijab kini bukan lagi monopoli kaum ibu yang sudah sepuh. Hijab sudah menjangkau semua kalangan, anak baru gede, eksekutif muda, ibu muda pun memakainya. Dengan jangkauannya yang semakin luas, maka tak perlu heran jika bisnis hijab menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Pergerakan trennya juga sangat cepat. Dalam waktu singkat, sebuah tren bisa membuahkan bisnis yang nilainya berlipat-lipat.

Misalnya saja ketika artis Risty Tagor yang muncul ke publik menggelar jumpa pers tentang rencana pernikahannya beberapa waktu lalu. Ia mengenakan hijab syar'i yang membuatnya terlihat sangat cantik. Hijab itu langsung menjadi tren. Para wanita berburu khimar Risty. Para produsen dan pedagang cepat menangkapnya. Mulai dari toko-toko online hingga lapak-lapak pedagang kaki lima, semua menawarkan khimar ala Risty. Harganya bervariasi, mulai dari Rp50 ribu hingga ratusan ribu rupiah. 

Pangsa pasar produk yang berkaitan dengan kaum wanita sangat besar, tak terkecuali hijab. Para produsen dan penjual hijab sadar betul dengan perilaku kaum wanita yang selalu ingin mengikuti tren. Mereka memenuhi hasrat kaum wanita dengan selalu mengeluarkan produk-produk baru. Itulah yang membuat hijab menjadi bisnis yang sangat bernilai, tak hanya bagi pemain lokal tetapi juga global. 

Pertumbuhan Pasar

Mariah Idrissi tak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi model terkenal. Ia gadis muslimah berusia 23 tahun. Ayahnya Pakistan, ibunya Maroko. Idrissi taat mengenakan hijab meski tinggal di London yang kosmopolitan.

Ketika seseorang menelepon dan memintanya menjadi bintang iklan H&M, jaringan peritel pakaian terbesar kedua di dunia setelah Zara, Idrissi bertanya setengah tak percaya, "Anda yakin mereka tahu saya memakai hijab?"

Kemunculan Idrissi dalam iklan pendek H&M, Close the Loop, cukup mengejutkan dunia fashion. Kemunculannya menciptakan tren baru. Ia kini menjadi pusat perhatian berbagai media gaya hidup. "Ini mungkin karena fashion hijab mulai meledak dalam beberapa tahun terakhir. Banyak yang melihat kemunculan seorang hijabi dalam dunia fashion mainstream sebagai sebuah pencapaian besar," ucapnya rendah hati.

Idrissi benar. Industri hijab mengalami kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Brand-brand ternama mulai melirik kecenderungan ini sebagai peluang besar untuk memangsa pasar baru. SelainH&M, brand-brand seperti DKNY, Tommy Hilfiger, dan Mango mulai meluncurkan koleksi busana muslim.Zara tak mau ketinggalan. Bersama Net-a-Porter, Zara mengeluarkan produk edisi ramadan pada 2015.

Awal Januari 2016, brand sebesar Dolce and Gabbana pun menunjukkan usaha yang sangat serius untuk bersaing di pasar busana muslim. Untuk pertama kalinya, mereka meluncurkan koleksi jilbab dan abaya—busana wanita Arab berbentuk jubah berlengan panjang. Dalam 20 gambar di Style.com/Arabia, di antaranya mereka menampilkan jilbab sutra yang sangat mahal berwarna hitam dan dihiasi banyak renda khas Dolce and Gabbana. Majalah Forbes menyebut ini sebagai manuver bisnis tercerdas tahun ini.

Dalam buku Muslim Fashion: Contemporary Style Cultures, Reina Lewis, profesor London College of Fashion, menulis: selama ini busana muslim "kurang terwakili di media gaya hidup" dan di sisi lain "terlalu terwakili di media berita". Hal ini terjadi karena dua asumsi yang saling berhubungan: "fashion adalah pengalaman Barat" sementara "muslim bukanlah bagian dari Barat." Kini semuanya telah berubah, jilbab dan abaya telah menjadi bagian dari mode di Barat. 

Keterlibatan Idrissi dengan H&M sekaligus menjadi pembuka pintu bagi industri fashion arus utama untuk menyasar pasar baru, pasar yang belum pernah mereka masuki sepanjang sejarah 60 tahun dunia periklanan modern: dunia muslim. Menurut laporan Global Islamic Economy Report, pasar baru ini diperkirakan akan menghabiskan uang sebesar $484 miliar untuk membeli pakaian—meningkat tajam dari $226 miliar pada 2013.
SUMBER : https://tirto.id/ahlan-wa-sahlan-industri-hijab-dunia-ddC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar