Kamis, 17 November 2016

MILITER RUSIA

Dua pekan lalu (14/3), Presiden Rusia Vladimir Putin memutuskan menarik pasukannya dari Suriah setelah hampir tujuh bulan menggelar operasi militer di sana. Keputusan ini mengagetkan, mengingat kehadiran Rusia cukup membantu Presiden Bashar al-Assad dalam merebut kembali wilayah yang diduduki oposisi. 

Menurut klaim Rusia, 400 desa seluas lebih dari 10 ribu km persegi sudah kembali dikontrol rezim Assad. Padahal, jika menilik dari riwayat peperangan di Suriah dalam kurun dua tahun terakhir, kejatuhan Assad mestinya tinggal menunggu waktu. 

Bantuan koalisi negara-negara Barat pada tentara oposisi Free Syirian Army (FSA) sempat membuat Assad semakin terdesak. Puncaknya, saat kota ketiga terbesar di Suriah, Idlib, jatuh ke tangan koalisi Jaysul Fath dan FSA, pada Maret 2015.

Setelah 80 persen kota Aleppo berhasil dikuasai oposisi pada 2011, Lattakia, kota paling barat di Suriah, pada Juni 2015 jatuh juga ke tangan mereka. Kala itu, 83 persen wilayah Suriah sudah jatuh ke tangan kelompok oposisi. Oposisi terdiri dari yang moderat pimpinan FSA, oposisi Islam pimpinan Ahrar Al Sham dan Jabhat Al Nusra, Gerilyawan Kurdi PKK, serta oposisi ISIS yang bengis. 

Untuk menahan kekuatan oposisi itu, wajar jika mulai Agustus 2015 Rusia mulai membangun pangkalan udara militer di Khmeimim, Lattakia. Operasi tempur dimulai 30 September 2015, dan kehadiran Rusia menjadi jaminan kemenangan Assad. Dalam waktu enam bulan, pemberontakan di Provinsi Homs, Lattakia dan Hama berhasil diredam. Palmyra yang dikuasai ISIS sudah diblokade selama dua bulan terakhir.

Kemajuan terbesar adalah saat dengan bantuan udara Kremlin, rezim Assad berhasil menutup total pintu masuk menuju Allepo dari Turki pada awal Februari lalu. Kota terbesar di Suriah ini merupakan ibukota oposisi. Di sana pulalah revolusi menuntut Assad pertama kali bergelora. 

Blokade massif dari tentara Suriah di darat dan serangan bertubi-tubi Rusia dari udara itu bisa membuat Aleppo direbut kembali dalam waktu pendek. Tetapi, di saat kemenangan sudah di depan mata, Rusia memutuskan pergi dari Suriah secara tiba-tiba.

Biaya Menyokong Suriah Mahal

Ada banyak faktor yang membuat Putin memutuskan hengkang dari Suriah. Jika menilik dari faktor ekonomi, serangan udara yang gencar dilakukan Moskow menelan biaya cukup besar. Lembaga analisa dan riset militer, IHS Jane, memperkirakan pengeluaran Kremlin untuk menyokong Assad selama enam bulan terakhir berkisar USD 2 miliar, dengan estimasi biaya per bulan mencapai USD 80 juta sampai 120 juta. 

Berakhirnya Pariwara Militer Rusia di Suriah


Angka-angka ini mencakup biaya serangan bom, pasokan distribusi, pembangunan infrastruktur pangkalan udara, personel darat, termasuk biaya salvo dari rudal jelajah yang ditembakkan dari laut Mediterania.

Untuk membasmi kelompok oposisi dan ISIS, Putin mengerahkan 73 jet tempur pembom tipe Tupolev dan Sukhoi, serta 20 helikopter tempur tipe Mi-series. IHS melansir, biaya mengudara armada tempur ini berkisar USD 12 ribu per jam untuk pesawat dan USD 3.000 per jam untuk helikopter.

Tempo pemboman dengan armada ini di langit berkisar 90 menit per hari bagi pesawat dan 60 menit per hari bagi helikopter. Setiap hari, Moskow menghabiskan sekitar USD 710 ribu agar armada udara ini bisa menggelar operasi militer di Suriah. Angka itu belum termasuk biaya peluru, rudal, serta bom yang bisa mencapai USD 750 ribu per hari.

Untuk menerbangkan 4.000 personel militer ke Suriah, Rusia membutuhkan dana sekitar USD 440.000 per hari. Untuk biaya operasional bagi armada laut yang berjaga di Laut Mediterania dan Kaspia, Rusia mengeluarkan kocek sekitar USD 200.000. Biaya untuk logistik, intelejen, dan komunikasi mencapai USD 250 ribu. Jika ditotal, pengeluaran harian Rusia di Suriah mencapai USD 2,4 juta. 

Menurut Ben Moores, analis senior di IHS, angka ini baru estimasi kasar. Biaya riil yang dikeluarkan Moskow per hari bisa mencapai dua kali lipat hingga USD 4,8 juta. Angka ini tak berbeda jauh dari pengakuan pejabat pertahanan Rusia pada The Moscow Times. Pejabat ini mengaku uang dari Kremlin untuk melindungi Damaskus mencapai USD 4 juta per hari.
SUMBER : https://tirto.id/berakhirnya-pariwara-militer-rusia-di-suriah-uPl

Tidak ada komentar:

Posting Komentar