Rabu, 16 November 2016

PERPUSTAKAAN LEIDEN


Perpustakaan Leiden, Jendela Indonesia Di Belanda


Saat ini perpustakaan Leiden punya 5,2 juta buku,  44,000 jurnal elektronik dan lebih dari sejuta buku elektronik. Setidaknya begitulah menurut laporan libraries.leiden.edu. Selain itu terdapat 60 ribu manuskrip kuno, 500 ribu surat, 100 ribu peta, 12 ribu gambar, dan 300 ribu foto. 

Perpustakaan yang mulai dibuka sejak 31 oktober 1587 ini, artinya hari ini genap berusia 429 tahun, menyimpan banyak koleksi tentang Indonesia. Menurut Kepala Perpustakaan Nasional RI, Sri Sulasih, 26 ribu manuskrip kuno tentang Indonesia ada di Universitas Leiden. Sementara Perpustakaan Nasional sendiri hanya mengoleksi 10,3 ribu manuskrip kuno. Tak sampai separuh dari yang dimiliki Perpustakaan Leiden. 

Perpustakaan Leiden punya bagian yang menyimpan koleksi khusus tentang Asia Tenggara. Selain koleksi tentang Asia Tenggara, sebagai perpustakaan kampus juga memiliki perpustakaan yang mengoleksi tentang ilmu-ilmu sains, hukum, dan sosial. Semuanya di kota Leiden. Sementara Library Learning Centre-nya berdiri di Den Haag. Di Jakarta sendiri terdapat wakil Perpustakaan Leiden, yakni Koninklijk Instituut voor Taal- Land- en Volkenkunde (KITLV) Jakarta di Jalan Rasuna Said, yang juga menjadi alamat dari Kedutaan Besar Kerajaan Belanda. 

Koleksi-koleksi soal Indonesia di Belanda sebenarnya tak perlu membuat heran. Tak ada yang menyangkal Indonesia adalah mantan koloni Kerajaan Belanda. Sebagai imperialis modern pasca renaissans, Belanda termasuk bangsa modern yang terbilang rapi dalam mengarsip lembaran-lembaran tertulisnya terkait Indonesia era kolonial. Bahkan tulisan dan benda-benda kuno Indonesia pun sampai ke sana. 

Perpustakaan Leiden, dengan demikian, adalah museum kenangan dan ingatan sang mantan tanah koloni.  

Setelah Perpustakaan Dibuka

Revolusi Belanda melawan wangsa Habsburg dari Austria, yang kemudian melahirkan sebuah negara baru, menyadarkan Belanda akan pentingnya pendidikan tinggi. Universitas Leiden pun mulai dibangun pada 1575. Kampus itu berdiri di tanah milik biara Katolik yang disita. 

Pentingnya buku, membuat pendiri langsung memulai proyek membangun perpustakaan. Plantin Polyglot alias Bibel Raja, yang dicetak Christopher Plantin, dihadiahkan Willem van Orange kepada perpustakaan itu pada tahun pertama pembangungan perpustakaan tersebut.  Perpustakaan itu resmi dibuka dan beroperasi pada 31 Oktober 1587.

Katalog pertama perpustakaan ini muncul pada 1595. Koleksinya makin lama makin bertambah. Perpustakaan ini belakangan punya beberapa bagian. Untuk Perpustakaan Universitas terletak di  Witte Singel 27,  Perpustakaan Asia Timur di Arsenaalstraat 1, Perpustakaan Hukum di Steenschuur 25, Perpustakaan Ilmu Pengetahuan Tingkah Laku dan Sosial, Wassenaarseweg 52, Perpustakaan Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika di  Einsteinweg 55, Perpustakaan Gorlaeus di Niels Bohrweg 1. Semua masih di kota Leiden. Selain itu, perpustakaan ini memiliki Library Learning Centre di  Den Haag dan di Jakarta ada KITLV di Rasuna Said Kav S-3. 

Tak sampai satu dekade setelah dibukanya perpustakaan tersebut, pada 27 Juni 1596, sebuah armada Belanda pimpinan Cornelis de Houtman, tiba di Banten. Setelahnya lebih banyak armada Belanda yang masuk ke Nusantara. Pelan-pelan hasil bumi wilayah Nusantara dimonopoli oleh Belanda yang mendirikan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada 20 Maret 1602. 

Portugis yang semula berjaya di Maluku, juga berhasil dipukul mundur oleh Belanda melalui VOC. Kuku kekuasaan Belanda mulai menancap di bumi selatan khatulistiwa, tanah air Nusantara.

Rombongan-rombongan armada kapal Belanda yang baru sampai ke Asia itu, nyaris tak pernah pulang dengan tangan kosong. Selain barang dagangan laris macam rempah-rempah, para perwira kapal juga membawa pulang peta-peta yang mereka buat dalam pelayaran. Bahkan manuskrip kuno dari tanah yang mereka jelajahi juga dibawa pulang. 

Pengetahuan apapun yang dibawa para pelaut Belanda dari Indonesia tentu menjadi sesuatu yang berharga bagi Kerajaan Belanda. Tak hanya peta pulau rempah-rempah, tapi juga bahasa lokal. Namun, usaha membuat kamus-kamus bahasa daerah di Indonesia baru mulai masif dilakukan pada abad XIX.  

Pembuatan kamus sering kali melibatkan para rohaniawan zending penyebaran agama Kristen.  Misalnya Benjamin Matthes yang membuat Kamus bahasa Bugis-Makassar. Dari Matthes inilah lakon besar sastra “asli” Indonesia, La Galigo, manuskripnya pun terbawa ke Belanda. 

Penginjil lain yang ikut menyusun kamus J.H. Neumann yang membuat kamus Batak Karo dalam aksara latin. Selain bahasa Karo, Bugis dan Makassar, kamus-kamus bahasa daerah lain pun dibuat di masa kolonial. Kamus-kamus tersebut, pastinya akan membantu mempelajari manuskrip-manuskrip kuno Indonesia yang sudah terangkut ke Leiden.
SUMBER : https://tirto.id/perpustakaan-leiden-jendela-indonesia-di-belanda-bZnX

Tidak ada komentar:

Posting Komentar