Kesempatan dan Kesempitan Ekonomi Digital Indonesia
Presiden Joko Widodo terlihat santai dan gembira ketika berkunjung ke beberapa markas raksasa internet di Silicon Valley. Tidak seperti forum-forum luar negeri yang harus dihadirinya dengan presentasi yang bikin dahi berkerut, kunjungannya ke kantor Google, Facebook, Twitter, dan Plug and Play pada 19 Februari itu seperti bertandang ke rumah teman main. Dalam banyak kesempatan, Jokowi tampak tertawa lepas.
Di kantor Facebook, si CEO Mark Zuckerberg, yang seperti biasa berpenampilan kasual dengan kaos oblong abu-abu dan celana jeans biru, langsung mengajak Jokowi bermain ping-pong virtual dengan perangkat Oculus Rift. Mengenakan batik biru berlengan panjang, Jokowi langsung menjajal permainan mahal dan canggih itu. Jokowi menunjukkan dengan baik, betapa ia bersenang-senang di sana dan punya ketertarikan besar terhadap perkembangan teknologi dan inovasi di dunia digital.
Meski terlihat santai, kunjungan ini tentu saja bukan untuk main-main. Ditemani Ibu Negara Iriana yang memakai setelan kebaya berwarna werah dan jilbab pink, Presiden Jokowi membawa misi khusus di Silicon Valley. Ia melihat bahwa ekonomi digital adalah ekonomi masa depan, dan menginginkan sektor ini tumbuh pesat di Indonesia pada tahun-tahun mendatang. Tak tanggung-tanggung, di sana, ia mencanangkan target untuk melahirkan seribu teknopreneur per 2020.
Di dinding kantor Plug and Play, perusahaan yang banyak berinvestasi untuk teknologi digital, Jokowi menulis: "Rintis bersama, sejahtera bersama." Ini merupakan pesan sekaligus sinyal keseriusan Jokowi mendorong perusahaan rintisan berbasis digital agar berperan lebih besar di bidang ekonomi.
"Saya harap Plug and Play ambil bagian dalam visi Indonesia menjadi pemain ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, yang akan mencapai USD 130 miliar pada 2020," kata Jokowi ketika bertemu Saeed Amidi, pendiri dan CEO Plug and Play.
Di Googleplex, Jokowi disambut CEO Google Sundar Pichai dengan makanan khas Indonesia untuk makan siang. Dalam kesempatan yang dihadiri oleh banyak karyawan Google asal Indonesia itu, Pichai setuju akan melatih 100.000 developer mobile di Indonesia, baik melalui kampus-kampus maupun kelompok-kelompok kreatif lainnya, sebelum 2020.
Bumi memang sedang dalam perjalanan menjadi planet digital. Semua negara, baik berlomba-lomba maupun tidak, dengan atau tanpa usaha, perlahan-lahan ikut melangkah ke sana. Peradaban digital menunggu di depan mata. Niat dan usaha pemerintahan Jokowi untuk membawa Indonesia terdepan dalam ekonomi digital tentu layak diacungi jempol.
Tapi, semudah itukah mewujudkan impian untuk memajukan perekonomian digital Indonesia? Apakah cukup dengan kunjungan presiden ke jantung peradaban digital? Jalan panjang dan berliku sepertinya masih harus dilalui. Selain tantangan, hambatan dan rintangan yang akan menghadang tidaklah sedikit dan bukan perkara sepele.
Internet sebagai Pasar Global
Dalam satu dan lain hal, internet telah menjadi semacam semangat zaman. Rasanya, tidak berlebihan jika milenium ketiga ini disebut sebagai era internet. Sebab, ia kini tak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia di alam ini.
Dua puluh empat tahun setelah World Wide Web pertama kali dikenalkan, sekarang internet telah menjembatani interaksi kurang lebih 50 persen penduduk dunia. Hanya perlu waktu 12 tahun hingga pengguna internet mencapai 1 miliar. Di tahun-tahun berikutnya, ditemani perkembangan telepon genggam yang berpengaruh besar bagi internet – juga sebaliknya, pertumbuhan itu seperti tak bisa dibendung lagi. Hingga kini angkanya mencapai 3,3 miliar.
SUMBER : https://tirto.id/kesempatan-dan-kesempitan-ekonomi-digital-indonesia-vxu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar